Mengenal Nabi Isa (Yesus) dalam Kepercayaan Islam
Dalam Islam, Isa (Yesus), putra Maryam, adalah salah satu nabi dan rasul Allah yang paling agung dan dihormati. Kisahnya yang mulia diceritakan dalam Al-Quran, menekankan perannya sebagai pembawa pesan tauhid (keesaan Tuhan) dan sebagai tanda kekuasaan Allah bagi seluruh umat manusia.
Umat Islam mencintai dan menghormati Nabi Isa 'alaihissalam (semoga damai menyertainya). Keimanan kepadanya adalah bagian tak terpisahkan dari akidah Islam. Al-Quran mendedikasikan banyak ayat untuk mengisahkan kehidupannya yang luar biasa, dari kelahiran hingga kenaikannya ke langit. Berikut adalah pandangan Islam mengenai Nabi Isa berdasarkan sumber-sumber otentik.
Kelahiran Ajaib dari Maryam yang Suci
Islam menempatkan ibunda Isa, Maryam (Maria), pada kedudukan yang sangat tinggi. Ia adalah wanita terbaik pilihan Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang disucikan dan dilebihkan di atas seluruh wanita di zamannya (Al-Quran 3:42). Satu surah penuh dalam Al-Quran, Surah Maryam (Surah ke-19), dinamai untuk menghormatinya.
Kelahiran Isa adalah sebuah mukjizat. Al-Quran mengisahkan bagaimana Malaikat Jibril (Gabriel) datang kepada Maryam untuk menyampaikan kabar gembira tentang seorang putra yang suci. Maryam, yang merupakan seorang perawan yang menjaga kehormatannya, bertanya, "Bagaimana mungkin aku mempunyai seorang anak laki-laki, padahal tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku?" (Al-Quran 19:20).
Jibril menjawab bahwa hal itu mudah bagi Allah. Isa diciptakan tanpa ayah melalui firman Allah, "Jadilah!" maka jadilah ia (kun fayakun). Bagi Islam, penciptaan Isa yang ajaib ini adalah tanda kekuasaan Allah, serupa dengan penciptaan Adam yang tidak memiliki ayah maupun ibu. Allah berfirman, "Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Jadilah!' (seorang manusia), maka jadilah dia." (Al-Quran 3:59).
Misi Kenabian: Pembawa Injil dan Mukjizat
Isa diutus sebagai seorang nabi khusus untuk Bani Israil (Anak-anak Israel) untuk menyeru mereka kembali kepada penyembahan Tuhan Yang Esa. Ia datang untuk mengkonfirmasi Taurat yang telah diturunkan kepada Nabi Musa sebelumnya dan untuk membawa kabar gembira tentang seorang rasul terakhir yang akan datang setelahnya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
Allah menganugerahkan kepada Isa sebuah kitab suci, yaitu Injil (Gospel), yang berisi petunjuk dan cahaya. Pesan utama Isa, sebagaimana pesan semua nabi, adalah sederhana dan jelas: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu." (Al-Quran 5:72).
Untuk membuktikan kenabiannya, Allah memberikan Isa kemampuan untuk melakukan berbagai mukjizat dengan izin-Nya. Mukjizat-mukjizat ini termasuk:
- Berbicara saat masih bayi di dalam buaian untuk membela kehormatan ibunya.
- Membentuk burung dari tanah liat, lalu meniupnya hingga hidup.
- Menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan penderita kusta.
- Menghidupkan kembali orang yang telah mati.
Mukjizat-mukjizat ini bukanlah bukti bahwa Isa adalah Tuhan, melainkan tanda-tanda yang jelas dari Allah untuk menunjukkan bahwa ia adalah utusan-Nya yang benar.
Kedudukan Isa: Hamba dan Rasul, Bukan Tuhan
Prinsip paling fundamental dalam Islam adalah Tauhid, yaitu keyakinan mutlak akan keesaan Allah. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya (Al-Quran 112:1-4). Oleh karena itu, Islam dengan tegas menolak gagasan bahwa Isa adalah Tuhan atau anak Tuhan.
Menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya (dikenal sebagai syirik) adalah dosa terbesar dalam Islam. Al-Quran mengisahkan dialog pada Hari Kiamat di mana Allah akan bertanya kepada Isa, "Wahai Isa putra Maryam! Adakah engkau mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah'?" Isa akan menjawab, "Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku... Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu): 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu'." (Al-Quran 5:116-117).
Bagi Muslim, Isa adalah seorang manusia yang mulia, seorang hamba Allah yang taat, dan salah satu dari lima rasul 'Ulul 'Azmi (rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati luar biasa), bersama Nuh, Ibrahim, Musa, dan Muhammad.
Peristiwa Penyaliban dan Kenaikan
Al-Quran menyajikan narasi yang berbeda mengenai akhir misi Isa di bumi. Ketika musuh-musuh Isa bersekongkol untuk membunuhnya, Allah membuat rencana tandingan untuk menyelamatkannya. Al-Quran menyatakan dengan jelas:
"...padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka... tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya." (Al-Quran 4:157-158).
Umat Islam meyakini bahwa Isa tidak disalib dan tidak dibunuh. Sebaliknya, Allah menyelamatkannya dari rencana jahat tersebut dan mengangkatnya ke langit dalam keadaan hidup, baik jiwa maupun raganya. Peristiwa ini menunjukkan perlindungan dan kekuasaan Allah atas utusan-Nya.
Kembalinya Isa di Akhir Zaman
Keyakinan akan kembalinya Nabi Isa adalah bagian penting dari eskatologi (ilmu tentang akhir zaman) dalam Islam, berdasarkan hadis-hadis otentik dari Nabi Muhammad ﷺ. Isa akan turun kembali ke bumi menjelang Hari Kiamat sebagai salah satu tanda besar kiamat.
Ia tidak akan membawa agama baru, melainkan akan menjadi pengikut syariat Nabi Muhammad ﷺ. Ia akan memerintah sebagai pemimpin yang adil, meluruskan keyakinan-keyakinan keliru yang dinisbatkan kepadanya, mengalahkan Dajjal (Anti-Kristus), dan menegakkan keadilan serta kedamaian di seluruh dunia. Setelah hidup di bumi selama beberapa waktu, ia akan wafat secara alami sebagaimana manusia lainnya dan akan disalatkan oleh umat Islam.
